Apa Itu Sastra?

Saat ini, istilah sastra mengalami pergerakan makna. Dahulu, sastra dianggap sebagai estetika dan komponen penting dalam berbagai pergerakan di Indonesia. Kini, setiap kali mendengar kata sastra, pasti yang timbul di benak kita adalah bahasanya yang berat dan sulit dipahami, sehingga tidak sedikit orang yang enggan mendekatkan diri pada sastra.

Padahal, di balik bahasa yang sulit dipahami itulah tersirat beribu makna kehidupan. Yang berkali-kali ditafsirkan menghasilkan makna yang beragam. Tiap orang memiliki pandangannya masing-masing tentang suatu karya sastra. Mengesankan bukan?

Ingat, zaman pra-sejarah dan sejarah dibatasi dari ditemukannya aksara. Sebuah peradaban dianggap maju atau tidak diukur dari seberapa besar bangsanya mampu menggunakan tulisan.

Ingatkah kamu surah pertama yang diwahyukan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW tentang apa?

BACALAH.
BACALAH.
BACALAH.

Membaca tidak bisa dilakukan tanpa ada tulisan.

Ya, betapa kehidupan kita tidak bisa terlepas dari tulisan.
Tulisan merupakan penyalur berbagai nilai kehidupan.
Tulisan juga bisa menjadi penyalur pikiran dan perasaan seseorang. Ketika tidak tahu harus curhat kepada siapa, maka biarkanlah pena berbicara. Bebaskan apa yang ada dipikiran sebebas-bebasnya. Jangan biarkan orang lain menghambat kita menuangkan pikiran kedalam secarik kertas.

Tulisan atau sastra merupakan keajaiban yang dimiliki umat manusia. Karena dengan kekuatan sastra, dunia bahkan bisa berubah.

Sastra itu bagaikan pisau yang memiliki dua mata sisi, baik dan buruk. Di tangan kitalah bagaimana kita mengarahkannya. Untuk kebaikankah atau keburukan. Ya, semua bisa.

Selamat datang di catatankisah.wordpress.com. Semoga melalui tulisan disini bisa membuka wawasan, memberi renungan, dan tentunya bermanfaat bagi kawan semua. Aamiin 🙂

Advertisements

Hadiah untuk Wikha

20 APRIL 2018–Permukaan jalan terasa kasar namun cukup nyaman dijejaki karet-karet ban kendaraan. Siang itu terik, tidak ada orang yang berlalu lalang di sisinya, yang ada hanyalah mereka yang bekerja keras di lahan-lahan luas berwarna hijau. Pantas saja karena aku sedang berada di dalam sebuah mobil putih yang melaju sendiri di jalan lurus toll. Di sepanjang perjalanan, aku menikmati kombinasi indah hijau dan biru, juga gunung-gunung yang menyeruak dari awan-awan putih di atas sana.

Mungkin bagi orang lain, merupakan hal yang aneh jika jalan toll saja bisa mengingatkanmu pada seseorang. Empat hari yang lalu, aku mendapat kabar bahwa salah satu teman baikku akan segera wisuda di hari Sabtu, 21 April 2018. Andai Wikha tahu, begitu ia disapa, bahwa panjangnya jalan toll ini membuatku mengenangnya. Dulu, sewaktu kami diberi challenge TED Talks di salah satu Workshop XL Future Leaders, aku ingat dia membuka wawasan kami di kelas workshop, “Kenapa biaya lewat toll mahal?” Dari sana, kami pun paham alasannya, dengan ia menjelaskan material dan prosesnya yang begitu rumit.

Ternyata, jalan toll tidak cukup mengingatkanku tentang Wikha. Sesekali saat perjalanan itu si mobil putih melaju di bawah jembatan-jembatan yang menurutku luar biasa. Kenapa? Dengan adanya jembatan itu, akses dua kampung tidak terputus meskipun telah dibangun jalan toll tersebut. Beberapa kali aku menyadari kalau pekerjaan teknik sipil sungguhlah mulia. Ia memudahkan banyak orang menjalankan mobilitasnya, untuk tetap produktif dan menjalankan amanahnya sebagai khilafah di bumi ini. Sama halnya dengan jalan toll, jembatan membuatku ingat pada Wikha. Dia pernah bilang kalau dia spesialisasi jembatan busur dan itu keren banget. Bahkan dia pernah menang lomba nasional kategori jembatan busur bersama tim teknik sipilnya. Memang menurutku pribadi, kalau di Indonesia banyak jembatan busur dengan variasi modelnya pasti menarik ya. Entah kenapa, kalau ada bata, beton, baja, aku selalu teringat Wikha. Hehehe.

Wikha, pertama kali aku ketemu dia sewaktu General Assembly FORMASI 2014. Mungkin karena aku bukan debater jadi jarang ketemu sama teman-teman FEDS, jadi belum terlalu kenal sama dia waktu itu. Gaung namanya sering kudengar berkali-kali. Saking eksisnya dia bahkan aku pernah takut ke FORMASI gara-gara terkucilkan sama dia, takut anaknya sombong (Pola pikir maba yang payah ini. Huft). Faktanya, justru sebaliknya. Kami kenalan sewaktu Open House UKM 2015. Waktu itu, aku basa basi tanya namanya, padahal sih sudah tahu. Terus, aku kaget banget sama jawabannya, “Aku Wikha. Kamu Luly kan? Aku sudah tahu kamu kok.” Lho, ternyata? (Bisa disimpulkan sebenarnya sesama Formasiers itu saling mengenal lho. ♥)

Setelah perkenalan singkat itu, aku jadi sering ketemu sama Wikha di FORMASI dan yang paling kuingat lagi setelah itu di FORMASI Anniversary 2015. Di sana, dia pakai pakaian cina warna merah. Cantik sih tapi liar sekali tingkahnya (Masih ingat sewaktu bagian Miss Formasi dan ditanya bakatnya apa, dia jawab ‘makan beling’ dong. Terus dia salto di depan panggung. Hahaha).

Syukur-syukur, ternyata hubungan kami bisa semakin dieratkan sama FORMASI dengan kepengurusan BOC 2016 Progressive. Ya, kami satu divisi diiii *jreeeng* Conversasyong in Action! *bunyi kembang api* Meski begitu, kami berbeda sub divisi, aku di storytelling sedangkan dia di speech. Selama satu tahun itu, sepertinya bisa dihitung jari deh dia sempat kumpul bareng se-divisi (hayo Wik). Dia sibuk banget! Ada sih salah satu rapat yang tidak kulupakan yaitu sewaktu di Bakso Presiden, malam dengan rintik-rintik hujan menjelang tes beasiswa Djarum. Sebenarnya, kami yang berdiskusi sudah tidak terlalu fokus membahas Conversasyong dan materi Public Speaking. Di pikiran kami hanyalah “Bagaimana persiapan tesnyaaa?”. Terus di hari berikutnya, aku senang banget sewaktu tes karena ternyata aku sama Wikha lanjut sampai tahap akhir seleksi, meskipun akhirnya hanya dia seorang dari FORMASI yang diterima. T.T Ya, kami memang belum berjodoh di Djarum, tapi ternyata kami dipersatukan di XL Future Leaders Batch 5. Senang banget bisa bareng-bareng Wikha dan teman kami, Tika, di sini. Di XLFL, kami sering bareng-bareng join project jadi jalaninnya juga senang ya. Wikha adalah orang yang percaya aku bisa jadi moderator untuk pertama kalinya, yang paling depan di hadapanku sewaktu teman-teman XLFL Surabaya kasih kejutan ulang tahun, yang suka cium orang tiba-tiba, yang suka salto kalau ada kesempatan, yang suka gangguin orang, yang suka ribut sendiri, yang suka pamer, yang suka tidur dimana-mana… Hal yang paling kusuka dari dia adalah ketika dia curhat. Senang dengarinnya.

21 APRIL 2018–Sekarang, setelah waktu berjalan dengan cepat, dia tiba-tiba hari ini wisuda. Wikha dulu pernah cerita sewaktu kami di kantor XL Malang, kalau ada anak teknik yang saudaranya juga teknik, dua-duanya lulus tiga tahun dan itu benar-benar jadi motivasinya. Pikirku, “Wow, tiga tahun? Memang ya pasti ada langit di atas langit. Pasti. Semua orang punya definisi suksesnya masing-masing dan kalau membandingkan hidup kita terus sama orang lain ya bakal nggak ada habisnya.” Jadi, selamat Wikha! Senangnya ya sudah wisuda! *Pelukkk* Terus di tanggal 21 April 2018 which is hari Kartini, lagiii. Semoga sukses terus ya dan jangan lupain aku, teman-teman XLFL Batch 5 Surabaya dan manusia-manusia FORMASI. Doakan kita semua supaya cepat wisuda ya Wik.

I feel grateful having an energetic and enthusiastic friend like you!

PS : Kalau nikah, undang aku ya Wik! 😉

Dialog dengan Milla aka Millennial

Aku:
Kamu tahu? Ada sesuatu yang mengganjal. Meskipun kecil, tapi menurutku cukup berpengaruh. Jadi begini. Semua tahu kalau sosial media seperti Facebook dan Instagram memiliki satu fitur yang sama yaitu ‘like’. Ya kan?

Milla:

Ya. Terus masalahnya apa?

Aku:

Masalahnya ada di simbol. Simbol ‘like’ di Facebook ditandai jempol tangan, sedangkan Instagram berbentuk hati.

Milla:

Lalu? Bukannya itu biasa? Ah! Aku tahu! Kamu pasti baper kan kalau simbolnya hati?!

Aku:

Apa sih. -_- Bukan itu. Tapi hubungan konteks ‘like’ dengan konten yang dishare.

Semisal nih. Status di media sosial itu tentang berita kesedihan atau kehilangan, terus, di ‘like’ orang. Banyak pula. Intensi para ‘likers’ itu apa sih? Belum lagi seperti LINE yang ‘like’nya ada ekspresinya. Yang menurutku… Karena emoji… Nggak bisa dijadikan ekspresi asli.

Contoh emoji 😭 di LINE. Ini bisa diartikan ‘sedih’, ‘terharu’, dan ‘simpati’. Di sisi lain bisa diartikan ‘ironi, ya’, ‘capek deh’, ‘kok garing’, ‘apaan sih’, dll. Semua tergantung cara pandang yang memilih emoji tersebut dan orang yang menerimanya. Tentunya tidak semuanya satu pemikiran. Ada miskomunikasi, istilahnya.

Kembali lagi. Kalau memang berita duka, lantas, yang di ‘like’ mereka itu apa? Karena yang aku paham, ‘like’ artinya ‘suka’.

Milla:

Hmm… Mungkin cara pandang kamu tentang ‘like’ ini masih dalam konteks aslinya, Luly. Menurutku, bisa aja arti ‘like’ bagi orang lain adalah ‘support’ dan ‘setuju’.

Aku:

Iya juga. Tapi kalau memang itu tujuannya, tapi kok mereka tidak menjelaskannya dengan kata-kata? Bukannya tersedia kolom komentar?

Tidak apa Mill. Aku cuma ingin berbagi pendapatku, bahwa karena cara pandang orang terhadap sesuatu itu berbeda, kadang, ada saja yang salah menanggapi apa yang kita beri. Jangan sampai ada status atau gambar menyedihkan, di ‘like’, terus bikin sedih yang upload. Meskipun captionnya positif lho. Karena bisa jadi, seseorang menuliskan kata-kata positif sebenarnya untuk mereka sendiri dan berharap orang lain mendukungnya. Menyemangati diri mereka yang bersedih.

Sebenarnya, ini semua berawal dari aku yang serba salah mendapati foto saudara Rohingya kita yang membutuhkan pertolongan di Instagram. Aku takut Mill. Sisi positifnya, dengan aku ‘like’, aku menyebarkan informasi bahwa ada yang membutuhkan uluran tangan. Tapi di sisi lainnya, aku tidak ingin ekspresi sedih dan ketidakberdayaan mereka tersebar luas. Kenapa? Karena mereka bukan bangsa yang lemah. Aku khawatir kalau foto itu menimbulkan citra suatu etnis sebagai ‘ini’ dan ‘itu’.

Pikirku, untuk menyuarakan bahwa mereka butuh bantuan, mungkin, tidak perlu ada foto mereka, para korban.

Jadi…

Ada yang bisa kita petik dari sini, Mill.

Bahwa memang bukan ‘like’ yang manusia butuhkan. Melainkan doa, support, dan bantuan yang nyata.

Milla:

Iya, setuju! Kan sama-sama manusia.

Aku:

Kalau menurut Millennials yang lain, gimana? 😊

Fakta Unik Tokoh dalam Novel Laskar Pelangi

KAWAN SEBANGKU LASKAR PELANGI

Ikal dan Lintang
Syahdan dan A Kiong
Kucai dan Samson
Trapani dan Mahar
Harun
Sahara dan Flo

RANKING 4 BESAR LASKAR PELANGI
1# Lintang
2# Ikal
3# Trapani
4# Sahara

TOKOH YANG DISEBUTKAN DALAM LASKAR PELANGI

Anggota Laskar pelangi:
1. Ikal / Andrea Hirata Seman Said Harun
2. Lintang / Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
3. Mahar / Muhammad Fajri / Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
4. Trapani / Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
5. A Kiong / Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
6. Sahara / N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
7. Harun / Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan
8. Kucai / Drs. Mukharam Kucai Khairani
9. Borek / Samson / Alvino
10. Syahdan / Syahdan Noor Aziz Bin Syahari Noor Aziz
11. Flo / Floriana

Tokoh tambahan:
1) Drs.Zulfikar
2) Njoo Xian Ling / A Ling
3) Bodenga
4) Bu Frischa
5) Bu Mus / N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid
6) Pak Harfan / K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor.
7) Mujis
8) A Miauw
9) Bang Sad / Arsyad
10) Tuk Bayan Tula
11) Suku Sawang
12) Suku Melayu Belitong
13) Bang Jumari
14) Kak Shita
15) Societeit De Limpai
16) Zaharudin Bin Abu Bakar
17) Republik Dangdut
18) Eryn Resvaldya Novella
19) Dahroji
20) S Benyamin
21) Suku Kek
22) Suku Hokian
23) Suku Tongsan
24) Suku Tionghoa
25) Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham
26) Pak Fahimi
27) A Liong
28) Michelle Yeoh
29) Jim Morisson
30) R.N. Sutarmas
31) Susilo
32) Cokro
33) Ivonne
34) Setiawan
35) Kuntoro
36) Muas
37) Jamali
38) Sa’idun
39) Ramli
40) Mahader
41) Buya Hamka
42) Ras Malay
43) Albert Buffon
44) Ras Kaukasia
45) Ras Negroid
46) Ras Mongoloid
47) Suku Teuton
48) Mr.Rod Stewart
49) Kenny Rongers
50) Dolen
51) Baset
52) Kunyit
53) Nat King Cole
54) Mbah Suro
55) Suku Mohawk
56) Agatha Christie
57) Dionisos
58) Suku Masai
59) Prajurit Masai/Moran
60) Wynton Marsalis
61) Johann Hummel
62) Lucifer
63) Taikong Razak
64) Tuan Pos
65) Wak Haji
66) Suku Indian Pequot
67) Suku Tututni
68) Suku Chimakuan
69) Chinookcuk
70) Suku Osage
71) Huron
72) Lakmiut
73) Cherokee
74) Sheffield
75) The Beatles

dan masih banyak lagi.

 

Sejuta arif menanti
Sambil berpeluh menghampiri
Hanya untuk satu tujuan
Mendapat receh dari sang tuan

Kerasnya hidup membalut putihnya tulang
Pahitnya nasib terlarut merahnya darah
Oh, derita yang ditanggung lelah
Sungguh tak bisa kukekang

Anak Jalanan

Ada banyak cara orang menanggapi tulisan tanpa paham konteks, tentunya ini sangat berbahaya. Ini seharusnya dihindari. Justru yang ada hanyalah aku bermain dengan imajinasimu dan menjadikanmu seakan dirimu sebagai tokoh utamanya. 16.40 WIB

Hanya Tulisan