Tali Pijar Gemintang

Luly Prastuty
Dalam rengkuh sunyi abadi, raga dan sukma hanyut dalam pusaran gelap tanpa batas

Hilang, hingga sadar pun tak sudi menyapa

Kudapati diri yang entah ku tak tahu dimana

Membumbung tinggi dalam peluk udara, melayang bebas

Samar-samar kelopak mata melukis bayang, menangkap

yang terjadi di sekitar, ingin kuungkap

tabir rahasia dimana aku tersesat

Kucoba sempatkan waktu sesaat

Nyatanya

tak kusangka

Terhempas aku di angkasa raya

Tepat di depan wajahku, tidak beraturan bintang-bintang bercahaya

Tatkala kata lupa bibirnya, aku terpesona

Konstelasi cahaya pijar terjebak pekatnya hampa

Indah nian, meski berserakan, satu-satu seakan memiliki jiwa

Terhubung menjadi satu, hasilkan kekuatan yang nyata

Hidup abadi tanpa peduli semuanya fana

Bintang bercahaya atas dirinya saja

Namun indah semata indah tak ada makna
Justru rangkaiannya dengan bintang lain menuntun arah

Pada mereka yang tersesat dalam labirin belantara

Sendirian, yang dalam perjalanannya nyaris putus asa

Tentang kemanakah diri ini harus melangkah

Tanpa panduan rasi bintang

insan banyak mati menghilang

Kepada tali pijar gemintang

Jalinanmu menyelamatkan jutaan nyawa

Seperti itu kiranya hakikat manusia

Kudapati kini rasa rindu itu kian mendalam

akan persatuan yang hangat tak pernah padam

akan kehidupan yang teguh meski beranekaragam

Advertisements

Interpretasi Diri

Sejujurnya, ada banyak hal yang orang lain tidak tahu tentangku. Tetapi semakin kesini, aku paham bahwa setiap orang punya kecenderungan berinterpretasi dan kurasa ini termasuk the freedom of speech.




Ada pepatah yang mengatakan, “kamu tidak perlu mengatakan siapa dirimu karena orang yang mencintaimu tidak butuh itu dan orang yang membencimu tidak akan percaya itu.”

Ya. Biarlah setiap orang dengan pemikirannnya. Mendapati pendapat mereka terhadapmu adalah hal yang menarik.

Dari sana, kamu akan mengerti indahnya keberagaman pikiran terhadapmu sebagai objek.

PC

Kami belum lapar pun haus. Namun kami bertiga bermain berlarian. Sampai akhirnya kami sepakat berhentian.
“Masuk ke rumahku yuk.”
Di balik punggungnya, kami berdua mengikuti. Saat itu, di sebuah sudut ruang tamu, pandanganku menangkap sebuah barang tertutup sehelai kain. Di depannya ada kursi kantor beroda. Tampak begitu jaga jarak dengan barang-barang di sekitarnya, bak bangsawan di strata sosial atas. Penasaran, aku bertanya,
“Kita boleh main itu?”

“Jangan. Itu komputer. Punya ayahku. Biasanya buat kerja.”

“Oh…”
Kecewa. Langkahku meninggalkannya namun tatapanku kepadanya masih lekat. Saat itu dalam hati aku berkata,
“Kapan ya aku bisa main komputer?”

.

.

.

Ya. Kira-kira begitulah pertemuan pertamaku bersama PC alias Personal Computer. Lucu ya.
Sedih juga sih dia jadi barang langka lagi.

26 September 2015

Aku teringat September dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2015. Memang bagiku, September adalah bulan yang spesial. Setiap tahun ada saja cerita yang bisa dikenang.

 

Tempo hari di salah satu post Instagram, aku pernah berbagi cerita tentang ulang tahunku di tahun 2014 bertepatan event penyambutan rookies Ice Cream Party organisasi bahasa Inggris, FORMASI UB. Dan sekarang, aku ingin berbagi tentang apa yang terjadi di tahun 2015.

 

Terulang lagi, momen itu bisa dibilang menyedihkan. Namun di saat yang sama cukup membahagiakan. Mengapa? Karena faktanya, 24 September 2015 bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Senangnya, aku bersyukur di hari yang sama, seluruh muslim (juga terutama yang tidak mampu) di dunia berbahagia menikmati lezatnya daging kurban. Sedihnya, pasti tahu dong, hari raya di bumi perantauan. Siapa yang peduli? Yang ada cuma menghabiskan waktu di kamar, menyudut tanpa melakukan apa-apa, main laptop, atau bersih-bersih kamar seperti hari libur biasa. Lantas, untuk menepis kesedihanku itu, aku beranjak ke salah satu minimarket dan membeli beberapa mie instan rasa… bakso sapi, rendang dan gulai. Entah, sesampainya di kamar kosan, aku semakin dirundung kesedihan. “Apa yang terjadi dengan hidupku sampai-sampai miris seperti ini?”

 

Dalam kegalauan itu, aku menyalakan HP dan menatap kosong sosial media Twitter FORMASI UB. Aku berandai-andai, “Kira-kira, mereka saat ini sedang apa ya? Pasti seru sekali. Rasanya sedih juga nggak ketemuan sama mereka. Kok nggak ada latihan lagi sih hari ini?” Setelah itu, aku tutup kembali HPku itu. Ya. Aku ingin bilang bahwa tanggal 26 September 2015 adalah Open House UKM Universitas Brawijaya, dan FORMASI UB jadi salah satu UKM yang harus memberikan performance di panggung utama Open House tersebut.

 

Beberapa hari sebelum 24 September, tepatnya tanggal 10 September, tiba-tiba aku diapproach personal Vinda, yang memintaku tampil storytelling di event Open House UKM. Aku mengiyakan (bahkan sebenarnya super super excited bisa diinvite. Hahaha). Dan esok harinya, 11 September malamnya, kami berdua meet up. Awalnya aku nggak menyangka kami langsung banyak cerita di kamar kosnya. Dia cerita kalau siang tadi baru pulang upgrading. Saat dia cerita, aku menyimak dan membayangkan betapa serunya kegiatan upgrading mereka. Vinda, dengan gaya ceplas ceplosnya, selalu bikin aku tertawa di setiap plot cerita yang diucapkannya. Selain itu, dia juga berbagi pengalamannya ikut lomba debate UBDC dan juga beberapa kegilaan di sekretariat bersama FORMASI UB. Mendengarnya, aku excited dan semakin ingin kenal lebih dalam dengan organisasi ini.

 

Di akhir pertemuan kami, dia bilang siap menyanggupi segala permintaanku yang berhubungan dengan properti dan kostum performance. Aku mengiyakan, “Siap. Pasti nanti kalau butuh sesuatu, aku bilang deh.”

 

Keesokan harinya yakni Sabtu, 12 September 2015, kami (aku, Vinda, dan Koordinator Acara) janjian bertemu. Namun sayangnya, hal itu tidak terjadi mengingat ada miskomunikasi antara Vinda dan si Koordinator Acara. Padahal, aku sudah siap menunggu di sekret dengan perasaan senang tidak terkira bisa bertemu mereka. Juga perasaan nyaman berada di sekret yang memiliki aura ‘semangat manusia’ yang pekat. Karena hal itu, dengan terpaksa pertemuan ditiadakan. Aku pun kembali ke kos.

 

Hampir seminggu kami tidak berkomunikasi lebih lanjut. Hingga di tanggal 22 September, kira-kira pukul 17.40 WIB, seseorang menghubungiku untuk latihan storytelling persiapan Open House. Ya, bagiku namanya sudah tidak asing pada saat itu. Radhy, selaku Koordinator Acara Grand Open Recruitment FORMASI meminta kesediaanku untuk berlatih di sekret. Aku yang pada saat itu memiliki tanggung jawab menghandle latihan rutin performansi Mata Pena FIB UB mengatakan kesediaanku pukul 20.00 WIB. Padahal faktanya, estimasi waktu itu tidak cukup mengingat mobilisasiku dari fakultas ke UKM memakan waktu belasan menit. Ditambah groginya aku menuju sekret FORMASI UB saat itu. Beberapa kali aku butuh menenangkan diri, menarik napas dan menghembuskannya perlahan-lahan. Memang, bagiku adaptasi di lingkungan baru cukup mengkhawatirkan. Aku takut tidak bisa membaur dengan mereka.

 

Sesampainya disana, aku disambut ramah. Keadaan di sekret penuh orang-orang yang hectic, entah karena regular practice atau persiapan Open House ini. Pada malam itu, kali pertamanya aku bertemu dengan Radhy dan Sarah. Sarah juga salah satu member FORMASI UB yang tergabung dalam divisi Broadcasting. Ia dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Pertemuan kami malam itu terhitung singkat mengingat jam malam kosku adalah 22.00 WIB. Setelah itu, aku izin undur diri dan pulang ke kos.

 

Keesokan harinya, 23 September 2015, kami kembali bertemu di sekret untuk berlatih. Aku sedikit lega ketika seseorang, kak Made, menyambutku hangat. Ternyata, kak Made lah yang merekomendasikan aku tampil di Open House ini. Sehingga, aku sedikit-sedikit konsultasi dengannya perihal performance storytelling. Sekret saat itu terasa sesak oleh barang-barang dan sejumlah manusia. Terlihat sekali mereka ditelan kesibukan persiapan Open House. Di kesempatan itu, Aida, Umay, Vita mengenalkan diri padaku. “Coba dong mau lihat performancenya bagaimana. Masa kapelnya belum liat?” kata Aida. Mendengar itu, meskipun sebenarnya masih malu dan ragu, aku memberanikan diri bangkit dari duduk. Tanpa buang tempo, segera saja aku membawakan cerita. Tanpa properti tentu saja. Melihat mereka yang ikut menyimak performanceku, aku ikut senang. Semoga saja yang kulakukan ini tidak sia-sia.┬áSementara itu, mengingat besok adalah hari raya, maka kami sepakat untuk tidak latihan.

 

Mari kita skip hingga 25 September 2015, tepatnya 16.00 WIB sore hari. Kembali, aku dihubungi untuk gladi bersih di lapangan rektorat. Aku membawa kostum putih hitam ala maba untuk perform. Saat gladi bersih itu, aku ingat (kalau tidak salah. Aku takut ada yang terlewat) ada beberapa pengurus FORMASI UB yang hadir seperti sang Ketua Pelaksana, Aida, Bella, Vinda, Tomo, Isa, Rico, kak Afdhal, dan Radhy. Ada satu hal yang aku ingat banget. Untuk sound check, panitia memutar lagu Worth It, Fifth Harmony berulang-ulang kali. Aku yang merasa bahwa lagu itu bukan ‘aku banget’, cuma bisa geleng-geleng kepala melihat mereka menikmati lagu itu sambil sesekali menggoyangkan badan. Hehehe…

 

Hingga akhirnya, matahari kian terbenam dan gladi bersih selesai. Aku memutuskan untuk izin duluan ke kosan sementara mereka semua kembali ke sekret FORMASI UB. Sesampai kosan, aku kembali berlatih dan memantapkan cerita. Sebenarnya, aku sedikit khawatir perihal kostum. Sehingga, aku berusaha mencari rok berwarna hijau saat pukul 20.30 WIB. Hingga akhirnya, menjelang pukul 22.00 WIB, masih saja tidak kutemukan. Entah mengapa warna hijau menjadi warna yang langka di toko-toko pakaian yang aku kunjungi. Hingga akhirnya, aku memutuskan mengenakan rok berwarna cokelat untuk performanceku sementara atasannya pinjam milik Vinda.

 

Sabtu, 26 September 2015 adalah puncaknya. Dengan flyer “Let’s Get the Fortune”, semua anggota FORMASI UB serentak membagi-bagikan flyer ke adik-adik mahasiswa baru. Aku yang pada saat itu masih canggung, sesekali ikut membantu. Sebenarnya, aku banyak memperhatikan pengurus FORMASI UB di stand kala itu, dan sebenarnya beberapa dari mereka sudah tidak asing. Salah satunya adalah Wikha. Wikha tidak asing karena dia juga hadir di General Assembly FORMASI 2014. Selain itu, dia juga sudah memiliki nama di FEDS. Pertemuan kami kala itu berujung pada tawarannya tentang lomba storytelling di Fakultas Teknik. Ternyata, aku kaget ketika beberapa dari mereka mengatakan sudah mengetahui aku sebelumnya. Kami hanya belum mengenal saja.
Di stand itu, aku berkenalan dengan banyak pengurus FORMASI UB yang juga FORIENT 28 seperti Atika, Farida, Ikrima, Tomo, dan Alif. Dulu sebenarnya aku sempat susah membedakan Aida dan Vita, Ikrima dan Atika. Hehehe… Maklum saja, namanya baru. Masih butuh adaptasi, kan?
Menjelang perform, aku terkejut mendapat kabar jika Sarah tidak bisa hadir. Jadi, ketika di atas panggung, yang seharusnya bertugas melaporkan kejadian ala newscaster justru adalah Radhy. Dari kejadian ini aku mendapat nilai dari FORMASI UB, yaitu siap-siaplah dengan skenario terburuk. Persiapkan segalanya dengan baik. Apabila memang terjadi, maka harus mengoptimalkan usaha yang harus diambil. Ya. Mereka memang luar biasa.

 

Saat ini, rasanya aku bisa bernostalgia dengan momen ketika lagu Welcome to My Paradise mulai dimainkan, aku mulai memasuki panggung. Juga ketika Aida yang mewawancarai testimoniku bergabung dengan FORMASI UB dan bagaimana organisasi ini merubah hidupku. Setelah itu, reportase berita dialihkan ke newscaster lain yaitu Radhy, yang menutup sesi performance kami diatas panggung dengan manis. Aku, aku, aku, sulit melupakan kenangan itu. Hingga akhirnya, saat itu juga, aku menetapkan diri untuk tidak lagi melewati pengumuman open recruitment pengurus FORMASI UB atau biasa disebut Board of Committee (BoC). No excuse.

 

Kini, jika aku ingin kembali ke masa itu, biasanya aku memutar lagu Worth It, Fifth Harmony. Aku tidak bisa melupakan momen yang bertemankan kilau emas mentari sore di lapangan rektorat saat gladi bersih itu.

Esok ‘Kan Kembali

Tengah malam ini, kami masih berbaris

Terikat pada sebuah pancang kayu tertanam tanah

Berserak dedaunan juga rumput, hijau, kuning, kering

Berteman takbir yang bergema di penjuru angkasa raya
Tak kusangka, esok telah tiba waktunya

Tunaikan amanah memenuhi perintah-Nya sebagai makhluk hidup di dunia

Dalam peluk angin malam dan tasbih semesta

Kamis, 31 Agustus 2017, 23.03 WIB

Puisi Tentang Dirimu

Selama ini aku mencari dan akhirnya aku dapati,

Harta karun itu ada pada dirimu.

Yang tersenyum atas kebahagiaan yang sederhana.

Sekecil apapun itu.

Ya, itu lebih dari cukup.
Akhir-akhir ini, aku bertanya pada diriku sendiri, “bagaimana bisa semua ini semakin mendalam?”
Ternyata, jawabannya adalah dirimu.
Ini semua tentang bahagiamu yang menjadi alasanku bahagia.
Sebentar,

Apa ini sesuatu yang abstrak, yang kata penyair dan pujangga ini sebagai,
Cinta?
Ah, bisa jadi, cinta itu tentang memberi dengan ikhlas. Namun berbeda dengan berkorban. Mengapa? Karena dalam kata berkorban, pasti ada sesuatu yang direlakan. Tapi padamu, rasa-rasanya aku punya banyak hal yang tidak terbatas dan karenanyalah aku membaginya denganmu.
Cinta?
Entahlah. Bisa jadi.
Maka kumohon, untuk hari ini,

tersenyumlah.

Untuk ketentraman hatiku dan dunia ini beserta isinya.
Kuharap, dirimu baik-baik saja disana.

Di sebuah siang yang terik dalam naungan sosokmu

22 Agustus 2017 14.27 WIB

Inspiring Quotes From Happily Ever After, Winna Efendi

  • Fairy tales are more than true; not because they tell us that dragons exist, but because they tell us that dragons can be beaten. – Neil Gaiman
  • Everybody wants to live happily ever after. Everybody wants to know their true love is true. – Giselle (Enchanted)
  • Violet: “I feel different. Is different okay?” Tony: “Different is great.” -The Incredibles
  • Everything will come, exactly as it does. – Zen Proverb
  • To us, family means putting your arms around each other and being there. – Barbara Bush
  • You don’t have to understand. You just have to believe. – Lizzie, Disney Fairies
  • You know how sometimes you meet someone and everything changes. Just like that? – Prince Eric, The Little Mermaid
  • All photographs are memento mori. To take a photograph is to participate in another person’s mortality, vulnerability, mutability. Precisely by slicing out this moment and freezing it, all photographs testify to time’s relentless melt. – Susan Sontag
  • Until this moment, I had not realized that someone could break your heart twice, along the very same fault lines. – Jodi Picoult
  • It’s amazing when strangers become friends but it’s so sad, when friends become strangers. – Unknown
  • As is a tale, so is life: not how long it is, but how good it is, is what matters. – Seneca
  • Having a place to go-is a home. Having someone to love-is a family. Having both-is a blessing. – Donna Hedges
  • Family faces are magic mirrors. Looking at people who belong to us, we see the past, present and future. – Gail Lumet Buckley
  • That’s what people who love you do. They put their arms around you and love you when you’re not so lovable. – Deb Caletti
  • There are far, far better things ahead than any we leave behind. – CS. Lewis
  • As you go through life you’ll see, there is so much that we don’t understand – Simba (The Lion King II)
  • Piglet: “How do you spell love?” Pooh: “You don’t spell it. You feel it.” – Winnie The Pooh
  • You don’t make a photograph just with a camera. You bring to the act of photography all the pictures you have seen, the books you have read, the music you have heard, the people you have loved. – Ansel Adams
  • That’s what friends are for. They help you to be more of who you are. – Christopher Robin, Winnie the Pooh
  • When life gets you down, you know what you gotta do? Just keep swimming, just keep swimming. – Dory, Finding Nemo
  • Love? Just a boy, meeting a girl under the right conditions. – The King, Cinderella
  • The world is its own magic. – Shunryu Suzuki